Bagi yang ingin baca cerpen ini via pdf, sudah saya sediakan di akhir postingan.
Dulu, sekitar
masih berumur 10 tahun, sempat terpikir olehku mengapa Ayah selalu menyisakan
sebagian besar dari jajan yang beliau peroleh dari acara yang dihadiri?
Tahlilan misalnya. Bukankah jika beliau makan sendiri lebih bisa mengganjal
perutnya dikala lapar? Namun apa yang dulu pernah saya pikirkan, kini sudah
kutemukan jawabannya.
Ayahku merupakan orang terpandang di masyarakat kami, beliau sering diundang untuk menghadiri acara di kampung, biasanya beliaulah yang memimpin jalannya acara. Sebagai seorang Kiai, beliau mengabdikan diri kepada masyarakat seutuhnya, sampai-sampai pekerjaan yang dulu digeluti malah ditinggalkan dan dipercayakan kepada kakakku hanya demi masyarakat. Mulai dari mengimami sholat, tahlilan, akad nikah sampai acara yang berbau Islami beliau pimpin sampai selesai dan terkadang beliau juga mendapat undangan untuk Mauidloh Hasanah ke luar kota.
Ayahku merupakan orang terpandang di masyarakat kami, beliau sering diundang untuk menghadiri acara di kampung, biasanya beliaulah yang memimpin jalannya acara. Sebagai seorang Kiai, beliau mengabdikan diri kepada masyarakat seutuhnya, sampai-sampai pekerjaan yang dulu digeluti malah ditinggalkan dan dipercayakan kepada kakakku hanya demi masyarakat. Mulai dari mengimami sholat, tahlilan, akad nikah sampai acara yang berbau Islami beliau pimpin sampai selesai dan terkadang beliau juga mendapat undangan untuk Mauidloh Hasanah ke luar kota.
Teringat ketika
beliau wafat, satu kampung tak ada yang pergi kerja bahkan sekolah pun
diliburkan. Biasanya kampung kami yang jika ditengah siang bolong tak ada orang
berlalu-lalang, saat itu menjadi ramai dipenuhi masyarakat takziah sembari
menunggu waktu pemakaman tiba. Suasana itu tak berubah sampai hari ketujuh pun
masih banyak masyarakat yang berlalu-lalang berziarah ke makam beliau.
Masyarakat nampaknya masih terpukul atas kepergian beliau walau sebagian dari
mereka sudah kembali beraktivitas seperti biasanya.
Sekarang umurku yang sudah
beranjak kepala tiga, giliranku yang menjadi penerus jejak beliau. Bukan hanya
saya, semua kakak laki-laki saya juga mengabdi untuk masyarakat di kampung
mereka, mungkin saya masih mendingan daripada kakak pertama yang juga harus
mengasuh pondok pesantren. Ya, kami bertiga sekarang sudah menjadi penerus
jejak Ayah kami, kecuali kakak kedua karena beliau lah satu-satunya anak
perempuan Ayah, tapi suaminya pun juga termasuk Kiai di kampungnya.
Sering mendapat
undangan dari masyarakat untuk mengisi acara yang mereka selenggarakan, mulai
dari walimatun nikah sampai acara selametan, tak pernah
kupikirkan. Ternyata mengabdikan diri untuk masyarakat membutuhkan tenaga
ekstra keras. Ilmu saja rasanya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat walau hanya dalam segi acara maupun kegiatan. Hampir tiap minggu
saya selalu mendapat undangan dan seperti biasanya setelah acara, ahlul bait
membawakan jajan sebagai rasa terima kasih. Ini memang adat yang sudah
turun-temurun ada di tengah masyarakat kami. Walaupun pas acara para tamu
undangan sudah makan, tapi rasanya kurang jika belum membawa jajan untuk
dibawa pulang.
Terkadang saya sendiri kesulitan
membawa jajan itu karena terlalu banyaknya. Ternyata inilah yang dulu
juga dialami oleh Ayah, bukan sekedar memberikan nafkah berupa makanan yang
sudah menjadi kewajibannya, tapi memang keadaan seperti saat ini pastilah
merepotkan beliau. Dulu ketika selepas pemakaman Ayah, ada seorang sopir antar
jemput yang diutus salah satu ahlul bait, bercerita bahwasanya Ayah pernah
memberikan jajan dari acara kepada salah seorang anak yatim piatu yang
hidup sendiri. Tapi apa yang beliau berikan menurut anak itu terlalu banyak;
"Pak yai, ini sudah ke berapa kalinya bapak memberikan jajan kepada
saya, dan seperti biasanya saya hanya akan menerima sebagian saja, bapak sudah
terlalu banyak membantu saya. saya sendiri tak tahu lagi bagaimana cara balas
budi bapak".
Ya, anak tersebut hanya menerima
sebagian saja sehingga terpaksa membawa pulang sebagiannya lagi dari jajan
itu padahal itulah yang beliau persiapkan khusus untuk anak tersebut sedangkan
untuk keluarga sudah beliau siapkan sendiri.
Dulu sempat terlinang
dipikirkanku. "Bukanlah lebih baik cukup makan atau membawa jajan saja
daripada harus keduanya atau tidak keduanya pun pasti tak mengapa? Itu lebih
pas dan tak memberatkan pihak ahlul bait dan saya yakin para tamu undangan juga
tak ada yang berpikir menghadiri undangan hanya untuk mencari makan".
Tapi kalau dirasa perlu dan bisa menciptakan citra baik bagi pihak ahlul
bait, hal itu bukanlah suatu hal yang buruk. Sunnah Muakkad mungkin.
Bukankah para Walisongo dulu yang mentransformasikan adat hindu
"membuat sesajen" sehingga menjadi "sedekah" ketika
masyarakat punya hajat? Bukankah Nabi Muhammad SAW. mengajarkan kita untuk
bersedekah kepada sesama? Menurut pribadi saya, justru inilah salah satu cara
untuk mampu mengumpulkan muslimin dalam satu majelis dan untuk pihak ahlul bait
bisa mendapatkan pahala sedekah. Hal ini sangat patut kan? Lalu bagaimana
pendapat orang ahli bid'ah? Biarlah mereka berekreasi dan kita cukup
melestarikan saja dengan sungguh-sungguh.
Inilah delima keluarga kami yang
tak ada habisnya. Meski jajan tersebut telah diberikan kepada siapa saja
yang membutuhkan, baik anak yatim yang dulu sering Ayah jumpai, tetangga kami
maupun para santri yang berada di pondok pesantren yang diasuh kakak
pertama. Namun jajan itu seringkali tak ada habisnya sampai-sampai kami
sekeluarga bingung mau dibawa kemana lagi. Terkadang mereka yang kami beri
terlintas di raut wajah mereka bahwa mereka juga sudah cukup dengan makanan
yang ada di rumah mereka. Andai disini ada Baitul Maal pastilah kami takkan
kebingungan seperti ini.
Sore ini kami sekeluarga
berkumpul di rumahku. Hal ini memang sering kami lakukan. Bukan hanya
di rumahku saja, tapi kami selalu bergiliran berkumpul di rumah
kakak-kakakku. Ini merupakan salah satu wasiat yang ditinggalkan kedua orang
tua kami agar selalu menjaga silaturrahmi dalam keluarga walaupun harus keluar
kota.
"Mbak Yu, kan sudah saya
bilang kalau kesini tidak usah membawa jajan lah. Itu milik Kang Mas saja
belum habis kok sudah diberi lagi. Terus kami menghabiskannya bagaimana?
Dibuang kan mubadzir Mbak Yu. Lagian Al juga masih kecil, tidak mungkin kan
kami habiskan bertiga? " Ucap istriku yang sedang menggendong anak pertama
kami kepada istri kakak pertamaku. Ya, dialah yang paling kualahan mengurus jajan
yang aku bawa dari acara-acara.
"Sudahlah dek, ini bukan
untuk adek sendirian. Lagian yang bawa kan cuma saya Dek. untuk orang delapan
kan cukup dek". Jawab istri kakak pertama.
"Oh ya Mbak yu. Kita sering
kali lho bahas beginian. Kalau di rumah Mbak Yu saja misal saya bawa jajan
Mbak Yu juga protes kok". Sela kakak kedua. Meski beliau yang tak
meneruskan seperti Ayah kami, tapi beliaulah yang menuruni apa yang
ditinggalkan Bunda kami. Sehingga dialah yang mengurusi rumah peninggalan orang
tua kami. Namun, beliau juga kualahan dikarenakan suaminya juga termasuk Kiai
di kampungnya.
"Nasib kita ya Mbak Yu, kita
semua suaminya seorang Kiai." Ucap istri kakak ketiga dengan suara tawa
mereka berempat selepasnya.
"Ya bagaimana ini Mbak?
Masak semenjak saya masuk di keluarga ini sampai sekarang belum juga dapat
solusi?" Keluh istriku.
"Sabar dek, saya masih
mencari jalan keluarnya dek”,
“Oh ya Mbak, Kang Syarif
dimana?" Tanyaku kepada istri kaka pertama.
"Katanya sedang mau mimpin
acara di tempat Haji Subali, sama kakakmu juga."
"Nanti malam kita bahas ini
selepas Tahlilan ya? Mumpung malam jum'at."
"Iya dek, rencana kami juga
mau menginap di rumahmu dek."
"Kok begitu? Nanti bagaimana
santri-santri kalau kalian berdua menginap disini"
"Tenang saja dek, tadi sudah
kami sampaikan kepada Kang Rahmat agar mimpin Pondok sementara. Ini juga untuk
pengalaman Kang Rahmat yang nantinya akan kami angkat ketua asrama."
Singkat cerita setelah kami
selesai tahlilan, kami membahas masalah ini. Dengan berbagai argumen yang kami
tuangkan semuanya ditemukan lah satu ide. Ya, membuat semacam Baitul
Maal tapi bukanlah Baitul Maal yang seperti seharusnya, mengurus
berbagai macam kebutuhan kaum muslimin dalam segi ekonomi, baik berupa zakat
maupun infaq. Hanya sebuah wadah menampung jajan dari acara-acara
yang kami hadiri. Letaknya akan kami sesuaikan dengan jarak masing-masing rumah
kami yang dirasa tak terlalu kejauhan mengantarkannya. Kebetulan kami punya
sebidang tanah yang sudah lama tidak ada yang mengurusnya. Rencananya, akan
diambil santri yang sudah lama menetap dan mengabdi untuk pondok
pesantren kakak kami untuk mengelolanya, hitung-hitung sebagai latihan mereka
ketika nanti selepas wisuda dan siap mengabdikan diri kepada masyarakat.
Bagi para santri selain
mengurusi jajan tersebut, mereka juga nantinya yang akan
mendistribusikannya ke berbagai pihak, mulai dari masjid-masjid seluruh kota
sampai panti asuhan juga tak luput dari pendistribusian. Tak pandang agama,
baik Islam maupun yayasan non-muslim juga akan disinggahi sehingga nantinya diharapkan
mereka yang menilai Islam adalah agama yang keras akan berubah pandangan
bagaimana Islam semestinya. Para santri takkan pusing dengan sarana pra-sarana,
kami yang mengurusnya. Para santri hanya menerima dan
mendistribusikannya. Apakah mereka akan digaji? Sungguh tak beretika jika
mereka bekerja namun tak mendapatkan upah. Bukan berarti mereka materialistis,
tapi memang hak mereka karena sudah mengurusi wadah ini. Selain gaji pokok tiap
bulannya, mereka juga akan mendapatkan jatah makan dan bagi mereka yang jaga,
akan disediakan tempat istirahat yang layak.
Beberapa minggu setelah rapat
keluarga, wadah ini sudah siap untuk mendistribusikan jajan-jajan
kami. Hari ini merupakan hari diresmikannya wadah ini dan hari perdana
pendistribusian. Setelah pembacaan manaqib yang dipimpin kak syarif yang juga
dihadiri oleh masyarakat sekitar, para santri mulai melakukan tugasnya
masing-masing. Kak Syarif selaku orang paling tua, ia yang menjadwal dan
merinci kemana jajan ini berjalan. Ya, beliaulah yang paling mirip
dengan Ayah.
Setelah beberapa bulan berjalan,
di keluarga kami tidak ada yang kualahan mengurusi jajan dan setiap kali
berkumpul seperti biasanya tak ada lagi omongan mengenai kemana jajan
itu harus dibagikan.
“Setelah beberapa bulan ini, para
santri sudah melaksanakan tugas mereka dengan baik. Dan saya juga
mendapatkan laporan ada salah satu pihak yang tak mau disebut namanya juga ikut
menafkahkan rezekinya. Semoga ini akan menjadi sebuah inspirasi bagi masyarakat
sekitar, khususnya bagi masyarakat muslim. Dan semoga ini akan berjalan dengan
baik selamanya”. Ucap Kak Syarif mengakhiri kumpul keluarga kali ini.
Izzul Fikri bin Zubaidi Zen
Rabu, 23 Maret 2016 M
Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon