It's Hijrah Cinta


Hari ini begitu panas. Terik mentari terasa menguliti tubuhku. Panasnya terasa hingga ke tulang - tulangku. Siang ini kami akan makan diluar. Ditempat yang telah dia tentukan. Entah tempat mana, aku pun tak tahu. Terlihat Jazz merah dengan plat cantik terpakir dirumahku. Rumah dengan pelataran tak luas, namun masih mampu menampung mobilmu. Aku melirikmu dari dalam rumah. Ku ambil tasku dan tak lupa buku bacaan yang ku selipkan didalamnya. Diapun mengetuk pintu dan memberi salam. Ibuku, menemuinya dan mempersilahkannya untuk duduk diruang tamu. Seperti biasanya terlibat dalam sebuah obrolan ringan diantara mereka.

Singkat cerita, aku dan Andi pamit pada ibu. Well kami siap berangkat.

"ada seseorang lagi yg kubawa". Ucap Andi tiba-tiba.

Sontak aku kaget. Siapa orang itu. Hatiku terasa gundah seketika. Entah serasa ingin ku batalkan saja makan siang ini. Sebelum aku dicuekin mati - matian... 

"Taraaaa .. " Andi menggendong anak laki - laki berusia 4 tahun itu dari mobil. "Angkiiii" ucapku kaget. Senyum terlihat jelas mengembang diwajah tanpa make up ini.

"ya Allah.. Kirain mau sama siapa lagi, ternyata sama si Angki" aku berkata dengan gemas sambil mencubit pipi anak kecil itu. Angki adalah keponakannya.
"ini siapa?" tanya ibu. "ini anaknya Mbak Ria ibu.. Keponakannya mas". "emang Ria belum pulang kerja?. Lalu Andi pun menjawab, "udah bu, tapi aku ajak aja. Biar kita gk cuma berdua". "oh gitu, pulangnya jangan sore - sore ya". "oke ibu..." kami pun pamit.

Terlihat Andi begitu sopan, Andi berpamitan sambil mencium tangan ibu. Aku duduk didepan. Dan Angki berada dipangkuanku. Kebetulan didalam mobil juga terdapat mainan. Jadi, Angki tidak rewel. Sesekali aku dan Angki bernyanyi. "gpp kn kita makan bertiga?", tanyamu memastikan. "gpp" jawabku. "aku tahu kamu suka anak kecil, makanya aku bawa Angki. Lagian Mbak Ria lagi sibuk masak". "santai aja" ucapku dengan senyum."om, niki badhe tindak pundi kok tebih?", tanya Angki. Ya, meski usianya 4 tahun tapi dia terbilang jago bahasa krama. Orang tuanya adalah seorang pendidik. Jadi, anak kecil ini biasa diajari bahasa krama. 



Akhirnya sampai juga. Aku dan Andi menggandeng Angki. Ketika duduk, seorang pelayan mempersilahkan kami untuk memilih menu. "ih adek kecil lucunya... Makan siang sama mama papa ya dek??" ucap pelayan itu sambil memegang pipi Angki. "hah??" aku kaget, rasanya ingin sekali aku protes. Kan aku masih muda. 
Tapi Andi menggeleng, seakan memberiku isyarat untuk tidak berkata apa-apa. Andi telah memesan makanan untuk kita berdua. "kok cuma berdua mas?". "biar aja, Angki gak usah.. Toh gak bakal mau dek..". 
"mas emang aku keliatan tua ya?". 
"hahaha, kenapa?". Entah Angki tertawa begitu kencang ketika mendengar kataku. 
"kok diketawain mas.. gak lucu. Aku tuh mau protes. Tadi pelayan itu ngira Angki anak kita. Padahal aku kan masih 19 tahun... Gila!" 
"loh aku aja gak masalah kok dek lagian Angki kan lucu." terlihat Andi mencium Angki dan mengacak - acak rambutnya. 
"mas.. Ini serius.. Apa kamu gak jengkel apa?" 
"jengkel untuk?" 
"kamu kan masih 25 tahun.. Udah dikatain punya anak?" 
"itu biasa dek.. Orang-orang melihat kita tuh pasangan bahagia. Mana ada anak muda pacaran hang out bawa anak kecil. Ya jadi wajar aja kalau mereka ngiranya begitu. Tapi suatu saat kita juga akan merasakan masa begini kan? Dimana bukan Angki lagi yg disamping kita, mungkin ada Angka, Angko, Angke.. Hehe". 
"mas ini keponakan sendiri digituin. Apalagi itu.. Selesaikan dulu skripsinya. Skripsi dua tahun ko gak kelar. Kan kasihan orang tua mas" 
"hah... Aku pusing dek mikir skripsi. Aku mau berhenti aja" 
"dasar" 

Makanan itu terhidang dimeja . Mataku terbalalak kaget. "Aduh makanan kek gini, maemnya bingung" gumamku dalam hati. "kenapa? Gak suka? Enak loh..". 
"bingung" 
"kok bingung?, bingung cara makannya?" 
"bukan, ngece banget si. Bingung mau makan yg mananya?huh" 
ternyata dia memesankanku chicken roulades with cream sauce. Lengkap dipenuhi dengan cornbread stuffing,  grilled asparagus & whipped potatoes.
"dimakan semua lah..." kata Andi sambil nyerobot minuman yang ada dihadapannya "masalahnya aku cuma doyan dagingnya. Egak doyan ini ini ini dan ini" kataku sambil aku mengerutkan kening.


Tapi entah apa yang aku pikirkan, Aku merasa gak sepatutnya mengecewakan orang yang ada didepanku ini. Aku akan memakan makanan ini sebisaku. Untuk basa-basi ku potong daging itu menjadi bagian yang lebih kecil. Lalu aku menyodorkannya ke Angki. Aku ingin menyuapi Angki. Kasihan, masak Angki cuman menunggui kami makan berdua. Tapi tak ku duga. Andi juga menyodorkan makanan ke Angki. Jadi, kita bebarengan mau nyuapin Angki. Ah. Lucu sekali. Seketika itu juga kami saling bertatapan. Angkipun hanya terdiam melihat kita. "om,  Angki mboten purun maem. Angki pengennya jalan - jalan". Suara Angki memecah empat mata yang sedang saling bertatapan. "Adek maem dulu... Mbak suapin yaaa.. Maem bareng mbak.. Angki pengen yang mana?". Angki menatapku malu. "Iya... suapin om deh.. Angki maem nggeh? Nanti abis itu jalan". Angki tetap menolak. Kelihatannya Angki mulai rewel. "yo mpun.. Mbak biar maem dulu aaa.. Nanti jalan-jalan". Rayu Andi agar Angki tidak ngambek. 

Dengan cepat Andi menghabiskan makanannya. Sedang aku, masih sibuk memilih bagian mana yang akan masuk kedalam mulutku. Namun, aku gak enak membiarkan Angki menunggu ku terlalu lama. "udah mas" ucapku. "ditelaske to dek maemnya". 

"udah kenyang". 
"bohong". 
"kasihan Angki mas, dia pengen jalan - jalan". 
"ya tapi dihabiskan dulu, gak usah buru - buru". 
"nah, tapi tinggal sayur doank. Aku gak doyan mas" 
"ya sudah". Dan ketika hendak membayar, pelayan itupun mulai melihatkan mukanya kembali. "wah, adek kecil sekarang mau jalan - jalan sama mama papa ya... Asik donk.." ketika tiba dikasir pun .. "wah anaknya lucu sekali. . Umur berapa?" 
Huh! aku mulai kesal. Ingin rasanya meledak-ledak. Tapi, lagi-lagi Andi  hanya menanggapinya santai. "umur 4 tahun". Langsung kami menuju ke parkiran. Menaiki mobil dengan Angki masih tetap dipangkuanku.
"mas.." ucapku. "hmm" jawabnya karena sibuk menyetir. "aku masih sebel aja mas.. Aku kan masih muda. Masih 19 tahun Kenapa Angki yang kelihatan umur 4 tahun ini jadi anakku. Berarti aku kelihatan tua banget donk mas. Emang tuh orang - orang gak mikir apa? Kapan aku nikahnya?? Ngawur. Aku kesel mas".
"tuh kerjaannya kesel mulu, pantes keliatan tua" ucap Andi meledek.
"apa sih mas.. " aku menggerutu lalu diam. "adek pengen jalan - jalan kemana?" tanyaku pada Angki "muter - muter" jawabnya menggemaskan. "muter - muter ya pak sopir hehe". 
"iya nona tua" jawabnyatak mau kalah. Entahlah, Andi mau membawa kami kemana.

Tak terasa Andi mulai memarkirkan mobil di sebuah taman. "kita berhenti di taman ini ya mas?" tanyaku. "iya.. Lihat jalanan Angki pasti seneng". 
Ditaman itu kami duduk direrumputan sambil menikmati ramainya jalan - jalan yang lalu lalang akan truck, bus, bahkan mobil - mobil. Aku mengambil bukuku dari tas. "UPGRADE YOUR LOVE". Aku membacanya halaman per halaman. Ketika mataku mulai menginjakkan halaman 14, entah mataku tertuju pada Andi dan Angki. Dia terlihat sangat menyayangi Angki. Batinku serasa meleleh. Aku melihat pemandangan yang sangat menentramkan hati. Angki berlari-lari bebas di rerumputan dengan tawanya yang begitu lepas. Dan dia, sesekali menangkapnya, menggendongnya dan mendaratkan ciuman dipipi Angki yang mungil itu. Persis sekali saat aku dulu bersama Syifa. yang kebetulan Syifa seumuran Angki. Ah, aku jadi kangen Syifa. Aku ingin memeluk dan menciumnya. Sama seperti apa yang dilakukan Andi pada Angki. Batinku kacau. Ada rasa kagum namun juga ketakutan yang mendalam yang ku pendam. Batinku bersahut sahutan tak berarah. 

"Wahai hati, jangan kau jatuh-jatuh lagi. Sakit to? Setiap kali jatuh lalu ditinggal pergi... 
Wahai otak, jangan kau alirkan perasaan ini ke hatiku. Hatiku butuh istirahat. 
Wahai jiwa, janganlah kau bingung arah mana yang akan kau tempuh 
Wahai buku, katakanlah.. Bagaimana rasanya jatuh cinta dan patah hati itu". 

Ya Allah.. Jika memang dia baik buat aku, buat agamaku, buat keluarga aku, terbaik buat semuanya maka dekatkanlah.. Tuntunlah kami dalam sebuah jalan kebenaran.. Yang diridhoi. Jauhkanlah dari segala rintangan. :). Tapi jika memang dia bukan untukku. Aku berharap usaikanlah perasaan ini.


Tak hentinya batinku mengoceh. Detak kagum terus bergetar seraya memandangi kebersamaanmu dengan Angki. Kau terlihat sangat dewasa. Menarik sekali. Momen ini pun tak akan pernah luput dari ingatanku. Kelak entah dengan dirimu atau bukan ... Aku akan memiliki kebersamaan ini seutuhnya. Aamiin



Kamu pun datang dengan menggendong Angki, dan duduk disampingku. "Lagi asyik baca ya dek?" akupun tersenyum. "lagi seneng mas". Ucapku. "isi bukunya bagus? Sampai bisa buat kamu seneng?". 

"emm bagus, tapi lebih bagus cerita yang ditulis Tuhan ini.. Yang sedang aku jalani". 
"sudahlah, kau memang suka lebay begitu. oh ya, mau ice cream?" 
"aku??".
"iya". 
"nanti dibilang kayak anak kecil". 
"nona-nona tua mau ice cream?" 
"gak mau". 
"nanti Angki maem ice cream kamu pengen.. Yaudah, bentar aku titip Angki ya... Mau beli Ice cream". 
"iya".

Tak lama kemudian, Andi membawa dua buah ice cream walls viennetta brownie. "Angki gak rewel kan dek?". "enggak kok mas.. Angki dari tadi dongeng mulu". 
"oh ya. . . Ini buat Angki satu ice creamnya". 
"wah asyik nih dek.. Angki dapet ice cream. Mau dimaem ya dek?" ucapku pada Angki. 
"Bukaaaaaa" pinta Angki dengan manja. 
"sini tak bukain" ucapku bebarengan dengan Andi. Lalu kembali empat mata itu saling menatap untuk kedua kalinya. "eh yaudah biar mas aja yg buka ice creamnya". Aku tak mau berlama - lama bersemayam dimatanya. 
Terlalu sakit, entah rasa takut ini tiba-tiba begitu saja datang semakin terkagum semakin takut pula kehilangan. Atau mungkin hati aku yang belum siap untuk jatuh cinta kembali. Untuk dipatahkan lagi... Karena biasanya yang datang juga kan pergi. Yang termiliki belum pasti kan abadi. Dan yang didepanku ini.. Ah!
"nglamun dek? Ntar kesambet loh" ungkapnya mengagetkanku. 
"gak kok mas". Aku memasukkan buku ku ke dalam tas kembali. 
"oh ya.. Ini yang satu buat kamu. Mau sekalian aku buka in". tawarnya padaku sembari menyerahkan ice cream itu. 
"gk usah, aku bisa sendiri. Mas mau?". 
"gak.. Dimakan aja. Dihabiskan loh ya...". 
"pasti haha". 

Kami bertiga duduk sembari melihat ramainya jalanan. Menikmati ice cream ditengah teriknya matahari. Sesekali Angki bertanya, "niku bus e badhe tindak pundi?" dan Andipun hanya menjawabnya dengan singkat "ke luar kota". 
Kebersamaan dalam kesederhanaan ini membuatku begitu bahagia. "mas kapan-kapan kita kesini nya sama ibu ya mas" 
"hah?"  Kata Andi kaget sambil menatapku. 
"salah ya mas". 
"enggak, ntar dikira kita keluarga besar dek hhaaa. Nanti kamu kesel lagi? Hayo" 
"ya... Tapi aku seneng aja. Kecuali yang tadi itu". 
"oke nanti aku atur. Kita liburan bareng sama ibu". 
"gak kenapa-kenapa kan, mas?" 
"akan sangat menyenangkan tentunya, ayo kita pulang. Kata ibu kan gak boleh pulang terlalu sore". 
"iya mas". 

Pukul 15.13 WIB, kami pulang. Masih seperti tadi, Angki berada dipangkuanku. Sepanjang perjalanan, Angki tertidur. "mas, Angki bobok?". "iya, kenapa? Kamu berat ya?". 
"gak si, aku cuma ngomong aja. Kasihan.. Pasti Angki capek banget mas".
"tapi aku yakin... Dalam lelahnya Angki itu seneng banget. Sampai2 bisa tidur dengan pulas". 
Tak banyak lagi obrolan yang terjadi antara aku dan kamu disepanjang perjalanan pulang. Sedang tanganku sibuk membelai kepala Angki dengan lembut. Anak seusia empat tahun itu begitu terlihat lucu dalam lelapnya. 

Tibalah sampai dirumahku dan ketika aku mau turun membuka pintu mobil.
"dek ... Sebentar, biar aku aja yang bukain dek". 
"gak papa mas, aku bisa kok". 
"Biar aku aja, nanti Angki yang gendong aku. Kasihan kamu.. Dari tadi udah bawa Angki" 

Dibukakannya pintu mobil itu. Andi pun menggendong Angki. Aku keluar. Memberi salam, mengetuk pintu seraya mengucap, "ibu... aku pulang". Ibu pun membukakan pintu. Mempersilahkannya untuk masuk. Tapi Andi buru-buru pulang karena Angki sedang tidur. "ibu, aku pamit pulang langsung saja ya.." katanya sambil bersalaman dengan ibu dan mencium tangannya. "oh yaudah, hati - hati ya nak" ucap ibu.

Jazz merah itupun seketika tak menampakkan plat nomornya. Akupun masuk kerumah


Ku jatuhkan tubuhku keatas ranjang. Ku peluk teddy bear disampingku. Ku gugurkan semua lelah yang hinggap ditubuhku. Mataku menerawangi tiap langit - langit rumah. Tersenyum. Senyum itu tak hilang - hilang dari raut muka ini. Ah, rasanya serasa ada jutaan bintang berkelap kelip menyinari kamarku ini.. 

Kilauan warna pelangi yang sungguh menawan. Meski masih sore hari.. Aku tak tahu, kenapa aku merasakan perasaan seaneh ini. Tiba - tiba ibu masuk kekamarku. Ibu duduk disampingku. "ada yang lagi berbunga - bunga nih... Cerita donk?," 

"emm hehe" jawabku hanya dengan tawa. 
"hayo tadi ngapain aja. Jangan macem-macem kalau diluar ya?". 
"gak lah bu, Aku bisa jaga diri. Lagian dia juga akan sangat menghormatiku. Kan dia jg berasal dari keluarga yang agamis ibu". 
"ya ... Tp cerita donk" 
"oke nanti malam ya mamiku sayang. Emmuach" aku memeluk dan mencium ibuku. 
Ibu pun beranjak pergi meninggalkanku. Aku duduk ditempat tidur. Mengambil bantal dan blocknote. Bantal itu berada dipangkuanku sebagai alas tuk menulis. Akupun mulai menulis ; 

*** 
" Dear Variabelku " 
ini bukan pertama kalinya aku jatuh cinta. Bukan juga pertama kalinya aku patah hati. Dan aku percaya kedua rasa itu meski sangat berbeda tapi saling berdampingan. Pun juga hari ini... Tak mampu ku menafsirkan apa yang sebenarnya terdeteksi dihatiku. Bersamanya aku merasa nyaman, kasih sayangnya ... Sungguh... Dia mampu mengubah aku yang buruk menjadi aku yang lebih baik, dan anehnya tanpa ia suruhpun aku menjadi manusia yang lebih baik. Dia tak pernah membangunkanku disepertiga malam, tapi anehnya... Tanpa alarm tanpa smspun aku terbangun. Dia tak pernah menyuruhku untuk selalu sempatkan berdzikir. Tapi anehnya hidupku serasa kurang kalau belum menyebut nama-nama Allah... 
Dia.. Dia ... Dia ... 
Ini itu begitu aneh buat aku. 
Sejak diperkenalkan ke keluarganya... Rasanya ada sesuatu yang mendorongku untuk menjadi manusia yg lebih baik. Oh Tuhan... Disisi lain aku sadar. Aku dan dia itu berbeda. Aku gak bisa terus berlarut dalam perasaan suka ini. Aku tidak boleh tenggelam. Aku belum siap tuk jatuh cinta lagi ya Allah.. Karena aku tak siap pula untuk patah hati. Aku bingung. Rasanya ada bayang - bayang yang menghantuiku. Bagaimana kalau kedekatan ini hanya sesaat? Dan bagaimana nanti hancurnya hatiku ketika ternyata suatu saat nanti dia mengenalkan wanita lain ke orang tuanya ... Bagaimana ini Tuhan??, kenapa aku kalut dan amat teramat takut. Bagaimana jika kelak wanita itu pastilah sangat cantik rupanya, sangat pandai ilmu agamanya dan sangat lembut tutur bahasanya...... Ah.. 
*** 

penaku terjatuh seketika bersama sebutir airmata yang mengenai blocknoteku.



Nb : berhenti sampai disini, tokoh "Kau" saya ganti "Andi". Agar terlihat selaras, ada beberapa kata yang diganti.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment